Tim Nasional yang belum bisa menjadi idaman bagi bangsa Indonesia.
NATURALISASI
BUKAN JALAN TERBAIK UNTUK SEPAKBOLA INDONESIA
Sekarang
sudah tidak asing lagi kita mendengar nama-nama seperti Diego Micheal, Irfan
Bachdim, Cristian Gonzales di skuad Tim Nasional Sepakbola Indonesia, sampai
yang teranyar sekarang seperti Grek Ngokolo, Victor Igbonefo dan Stevano
Lilifany yang di datangkan langsung dari Belanda yang katanya masih ada darah
Indonesia mengalir didalam Stevano.
Apa
memang sudah sesulit itu kah Tim Nasional kita menemukan anak-anak bangsa yang
memiliki kualitas lebih dari mereka para pemain naturalisasi?. Pemain-pemain
tersebut diatas adalah beberapa contoh nama dari sebagian pemain sepakbola yang
kini sudah berganti kewarganegaraan menjadi WNI hanya untuk memperkuat skuad
Merah Putih berlaga disemua kompetisi. Melihat nama-nama para pemain
Naturalisasi tersebut kita juga tidak boleh menutup sebelah mata bahwa
kualitas-kualitas para pemain lokal tidak boleh dianggap sudah pudar, contohnya
nama-nama seperti Boci a.k.a Boas Salosa dan Ahmad Bustomi adalah mutiara-mutiara
asli binaan sepakabola Indonesia, tidak bisa kita pungkiri juga bahwa
talenta-talenta muda pesepakbola di Indonesia bertebaran dari Sabang sampai
Merauke, dari sekolah-sekolah sepakbola sampai tim-tim yang ada di Liga resmi
dibawah naungan PSSI. Mungkinkah asset-aset tersebut harus pupus karena
kebijakan PSSI yang coba merekam jejak negara-negara tetangga guna menghalalkan
para pemain lain untuk bissa memperkuat Tim Nasional kita dengan jalan
NATURALISASI! Kalau saja pembibitan di usia muda sudah dilakukan dengan baik
sejak dahulu mungkin jalan Naturalisasi bukan jalan yang baik untuk kemajuan
dan perkembangan Sepakbola Indonesia. Setidaknya proses tersebut membantu kita
menemukan talenta-talenta baru untuk menggantikan para pemain-pemain yang sudah
uzur dimakan usia. Boleh jadi pembibitan pemain di usia muda juga dapat
membantu para pengurus Sepakbola di negeri ini menyeleksi seluruh
telenta-talenta asli binaan Indonesia karena mereka lahir dan besar di
Indonesia.
Salah satu alasan
terkuat mengapa Tim Nasional kita jalan pintas melakukan Naturalisasi adalah
karena sudah lama kita tidak berprestasi baik ditingkat ASIA maupun
Internasional, bahkan katanya Negara kita sudah tertinggal jauh dari Negara
tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand yang notabennya dulunya
mereka jauh dibawah Indonesia, untuk pringkat FIFA saja Indonesia masih dibawah
ketiga Negara tersebut. Sungguh ironis memang melihat negara kita yang secara
Geografis lebih unggul jauh dari mereka, mengapa untuk mendapatkan 25 pemain
terbaik saja kita harus menyisihkan para talenta-talenta lokal guna
mendatangkan para pemain naturalisasi yang menyanyikan lagu Indonesia Raya saja
mereka masih terbata-bata. Sadar atau tidak sadar sedikit demi sedikit kita
sedang mengikis kebanggaan kita sebagai Negara yang besar akan sepakbolanya.
Akankah Naturalisasi ini menjawab akan keraguan pecinta sepakbola seantero
Indonesia akan Tim Nasional kita yang berprestasi dan haus akan gelar yang
sudah lama membeku dan kering. Kita berharap kedepan pembibitan pemain-pemain
muda asli Indonesia lah yang akan mengisi wajah-wajah di skuad Merah-Putih yang
akan memberikan gelar dan prestasi untuk bangsanya, bukan jalan pintas dengan
cara Naturalisasi. Karena Naturalisasi bukan jalan terbaik untuk Sepakbola Indonesia.
“Merah Putih di dadaku”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar